Pengertian Shodaqah dan Hadiah, Hukum, Perbedaan, Syarat dan Rukun serta Hikmahnya

By On Mei 16, 2022

PENGERTIAN SHODAQAH DAN HADIAH, HUKUM, PERBEDAAN, SYARAT DAN RUKUN SERTA HIKMAHNYA

Pengertian dan Dasar Hukum Shadaqah dan Hadiah
Shadaqah adalah akad pemberian harta milik seseorang kepada orang lain tanpa adanya imbalan dengan harapan mendapat ridla Allah SWT. Sementara hadiah adalah akad pemberian harta milik seseorang kepada orang lain tanpa adanya imbalan sebagai penghormatan atas suatu prestasi. Shadaqah itu tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk tindakan seperti senyum kepada orang lain termasuk shadaqah. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW. :
تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ (رواهالبخارى)                    
Artinya: “Tersenyum dihadapan temanmu itu adalah bagian dari shadaqah” (HR. Bukhari).

Hukum hadiah-menghadiahkan dari orang Islam kepada orang diluar Islam atau sebaliknya adalah boleh karena persoalan ini termasuk sesuatu yang berhubungan dengan sesama manusia (hablum minan naas).


Hukum Shadaqah dan Hadiah

a. Hukum shadaqah adalah sunah
b. Hukum hadiah adalah mubah artinya boleh saja dilakukan dan boleh ditinggalkan.

Sabda Rasulullah SAW. :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُمَّ عَنْهُمَ عَنِ النَّبِيْ صلم قَالَ لَوْدُعِيْتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْكُرَاعٍ لَأَجَبْتُ وَلَوْ أُهْدِيَ اِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْكُرَاعٌ لَقَبِلْتُ (رواه البخارى)

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW.telah bersabda sekiranya saya diundang untuk makan sepotong kaki binatang, undangan itu pasti saya kabulkan, begitu juga kalau potongan kaki binatang dihadiahkan kepada saya tentu saya terima” (HR. Bukhari).

Perbedaan antara Shadaqah dan Hadiah

a. Shadaqah ditujukan kepada orang terlantar, sedangkan hadiah ditujukan kepada orang yang berprestasi.

b. Shadaqah untuk membantu orang-orang terlantar memenuhi kebutuhan pokoknya, sedangkan hadiah adalah sebagai kenang-kenangan dan penghargaan kepada orang yang dihormati.

c. Shadaqah adalah wajib dikeluarkan jika keadaan menghendaki sedangkan hadiah hukumnya mubah (boleh).

Syarat-syarat Shadaqah dan Hadiah

a. Orang yang memberikan shadaqah atau hadiah itu sehat akalnya dan tidak dibawah perwalian orang lain. Hadiah orang gila, anak-anak dan orang yang kurang sehat jiwanya (seperti pemboros) tidak sah shadaqah dan hadiahnya.

b. Penerima haruslah orang yang benar-benar memerlukan karena keadaannya yang terlantar.

c. Penerima shadaqah atau hadiah haruslah orang yang berhak memiliki, jadi shadaqah atau hadiah kepada anak yang masih dalam kandungan tidak sah.

d. Barang yang dishadaqahkan atau dihadiahkan harus bermanfaat bagi penerimanya.


Rukun Shadaqah dan Hadiah

a. Pemberi shadaqah atau hadiah.
b. Penerima shadaqah atau hadiah.
c. Ijab dan Qabul artinya pemberi menyatakan memberikan, penerima menyatakan suka.
d. Barang atau Benda (yang dishadaqahkan/dihadiahkan).


Hikmah Shadaqah dan Hadiah

a. Hikmah Shadaqah

1) Menumbuhkan ukhuwah Islamiyah
2) Dapat menghindarkan dari berbagai bencana
3) Akan dicintai Allah SWT.

b. Hikmah Hadiah

1) Menjadi unsur bagi suburnya kasih sayang
2) Menghilangkan tipu daya dan sifat kedengkian.

Sabda Nabi Muhammad SAW. :
تَهَادُوْافَإِنَّ الْهَدِيَّةَتُذْهِبُ وَحَرَّالصَّدْرِ (رواه ابو يعلى)          
Saling hadiah-menghadiahkan kamu, karena dapat menghilangkan tipu daya dan kedengkian” (HR. Abu Ya’la).

عَلَيْكُمْ بِالْهَدَايَافَاِنَّهَاتُورِثُ الْمَوَدَّةَوَتُذْهِبُ الضَّغَائِنَ (رواه الديلمى)       
Artinya: “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena ia akan mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian-kedengkian” (HR. Dailami).


Pengertian Hibah, Hukum, Rukun, Syarat, Macam-macam serta Hikmahnya

By On Mei 16, 2022

PENGERTIAN HIBAH, HUKUM, RUKUN, SYARAT, MACAM-MACAM SERTA HIKMAHNYA

Pengertian dan Hukum Hibah
Hibah adalah akad pemberian harta milik seseorang kepada orang lain diwaktu ia hidup tanpa adanya imbalan sebagai tanda kasih sayang.

Firman Allah SWT. :

Artinya : “Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta dan (memerdekakan) hamba sahaya” (QS. Al Baqarah : 177).
          
Memberikan Sesuatu kepada orang lain, asal barang atau harta itu halal termasuk perbuatan terpuji dan mendapat pahala dari Allah SWT. Untuk itu hibah hukumnya mubah.

Sabda Nabi SAW. :
عَنْ خَالِدِابْنِ عَدِيِ أَنَّ النَّبِىَص م قَالَ مَنْ جَاءَهُ مِنْ اَخِيْهِ مَعْرُوْفٌ مِنْ غَيْرِإِسْرَافٍ وَلاَمَسْأَلَةٍ فَلْيَقْبِلْه ُ  وَلاَيَرُدُّهُ فَإِنَّمَا هُوَرِزْقٌ سَاقَهُ الله ُاِلَيْهِ (رواه احمد)                               
Artinya: “Dari Khalid bin Adi, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. telah bersabda, : “Barang siapa yang diberi oleh saudaranya kebaikan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak ia minta, hendaklah diterima (jangan ditolak). Sesungguhnya yang demikian itu pemberian yangdiberikan Allah kepadanya” (HR. Ahmad).


Rukun dan Syarat Hibah

a. Pemberi Hibah (Wahib)
Syarat-syarat pemberi hibah (wahib) adalah sudah baligh, dilakukan atas dasar kemauan sendiri, dibenarkan melakukan tindakan hukum dan orang yang berhak memiliki barang.

b. Penerima Hibah (Mauhub Lahu)
Syarat-syarat penerima hibah (mauhub lahu), diantaranya :

Hendaknya penerima hibah itu terbukti adanya pada waktu dilakukan hibah. Apabila tidak ada secara nyata atau hanya ada atas dasar perkiraan, seperti janin yang masih dalam kandungan ibunya maka ia tidak sah dilakukan hibah kepadanya.

c. Barang yang dihibahkan (Mauhub)
Syarat-syarat barang yang dihibahkan (Mauhub), diantaranya : jelas terlihat wujudnya, barang yang dihibahkan memiliki nilai atau harga, betul-betul milik pemberi hibah dan dapat dipindahkan status kepemilikannya dari tangan pemberi hibah kepada penerima hibah.

d. Akad (Ijab dan Qabul), misalnya si penerima menyatakan “saya hibahkan atau kuberikan tanah ini kepadamu”, si penerima menjawab, “ya saya terima pemberian saudara”.

Macam-macam Hibah
Hibah dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu :

a. Hibah barang adalah memberikan harta atau barang kepada pihak lain yang mencakup materi dan nilai manfaat harta atau barang tersebut, yang pemberiannya tanpa ada tendensi (harapan) apapun. Misalnya  menghibahkan rumah, sepeda motor, baju dan sebagainya.

b. Hibah manfaat, yaitu memberikan harta kepada pihak lain agar dimanfaatkan harta atau barang yang dihibahkan itu, namun materi harta atau barang itu tetap menjadi milik pemberi hibah. Dengan kata lain, dalam hibah manfaat itu si penerima hibah hanya memiliki hak guna atau hak pakai saja. Hibah manfaat terdiri dari hibah berwaktu (hibah muajjalah) dan hibah seumur hidup (al-amri). Hibah muajjalah dapat juga dikategorikan pinjaman (ariyah) karena setelah lewat jangka waktu tertentu, barang yang dihibahkan manfaatnya harus dikembalikan.

Hukum Mencabut Hibah

Jumhur ulama berpendapat bahwa mencabut hibah itu hukumnya haram, kecuali hibah orang tua terhadap anaknya, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. :
لاَيَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُعْطِى عَطِيَّةًأَوْيَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعُ فِيْهَا إِلاَّالْوَالِدِفِيْمَايُعْطِى لِوَلَدِهِ
Tidak halal seorang muslim memberikan suatu barang kemudian ia tarik kembali, kecuali seorang bapak kepada anaknya” (HR. Abu Dawud).

Sabda Rasulullah SAW. :
اَلْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَااْلكَلْبِ يُقِئُ ثُمَّ يَعُوْدُفِى قَيْئِهِ
 (متفق عليه)                    
Artinya: “Orang yang menarik kembali hibahnya sebagaimana anjing yang muntah lalu dimakannya kembali muntahnya itu” (HR. Bukhari Muslim).


Hibah yang dapat dicabut, diantaranya sebagai berikut :

a. Hibahnya orang tua (bapak) terhadap anaknya, karena bapak melihat bahwa mencabut itu demi menjaga kemaslahatan anaknya.

b. Bila dirasakan ada unsur ketidak adilan diantara anak-anaknya, yang menerima hibah..

c. Apabila dengan adanya hibah itu ada kemungkinan menimbulkan iri hati dan fitnah dari pihak lain.

Beberapa Masalah Mengenai Hibah

a. Pemberian Orang Sakit yang Hampir Meninggal

Hukumnya adalah seperti wasiat, yaitu penerima harus bukan ahli warisnya dan jumlahnya tidak lebih dari sepertiga harta. Jika penerima itu ahli waris maka hibah itu tidak sah. Jika hibah itu jumlahnya lebih dari sepertiga harta maka yang dapat diberikan kepada penerima hibah (harus bukan ahli waris) hanya sepertiga harta.

b. Penguasaan Orang Tua atas Hibah Anaknya

Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang bapak boleh menguasai barang yang dihibahkan kepada anaknya yang masih kecil dan dalam perwaliannya atau kepada anak yang sudah dewasa, tetapi lemah akalnya. Pendapat ini didasarkan pada kebolehan meminta kembali hibah seseorang kepada anaknya.

Hikmah Hibah
Adapun hikmah hibah adalah :

a. Menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama
b. Menumbuhkan sikap saling tolong menolong
c. Dapat mempererat tali silaturahmi
d. Menghindarkan diri dari berbagai malapetaka.

Pengertian Zakat, Hukum, Macam-macam, Syarat Wajib dan Ketentuan serta Hikmahnya

By On Mei 13, 2022

PENGERTIAN ZAKAT, HUKUM, MACAM-MACAM, SYARAT WAJIB DAN KETENTUAN SERTA HIKMAHNYA

Sahabat Al Amin Center, sudah kita ketahui bersama bahwa zakat adalah merupakan bagian dari rukun Islam, oleh karenanya setiap orang Islam yang sudah memenuhi syarat wajib zakat maka wajib baginya menunaikan dan melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Islam. Berikut ini saya jelaskan tentang pengertian zakat, hukum, macam-macam, syarat wajib dan ketentuan serta Hikmahnya, semoga bermanfaat, Aamiin.


Pengertian Zakat

Zakat adalah kata bahasa Arab “az-zakâh”. Ia adalah masdar dari fi’il madli “zakâ”, yang berarti bertambah, tumbuh dan berkembang. Ia juga bermakna suci. Dengan makna ini Allah berfirman: 

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ 

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang mensucikan hati”. (QS. As-Syams: 9)

Harta ini disebut zakat karena sisa harta yang telah dikeluarkan dapat berkembang lantaran barakah doa orang-orang yang menerimanya. Juga karena harta yang dikeluarkan adalah kotoran yang akan membersihkan harta seluruhnya dari syubhat dan mensucikannya dari hak-hak orang lain di dalamnya.

Zakat menurut istilah (syara’) artinya sesuatu yang hukumnya wajib diberikan dari sekumpulan harta benda tertentu, menurut sifat dan ukuran tertentu kepada golongan tertentu yang berhak menerimanya. Hukum mengeluarkan zakat adalah fardhu ‘ain, sebagaimana firman Allah Q.S. Al-Baqarah : 267:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.


Selain nama zakat, berlaku pula nama shadaqah. Shadaqah mempunyai dua makna. Pertama ialah harta yang dikeluarkan dalam upaya mendapatkan ridha Allah. Makna ini mencakup shadaqah wajib dan shadaqah sunnah (tathawwu’). Kedua adalah sinonim dari zakat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 60:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya shadaqah-shadaqah itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 60) 


Makna As-Shadaqat dalam ayat tersebut adalah shadaqah yang wajib (zakat), bukan shadaqah tathawwu’. 


Macam-Macam Zakat

1. Zakat Fitrah

Zakat fitrah menurut istilah syara’ adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim setahun sekali berupa makanan pokok sesuai kadar yang telah ditentukan oleh syara’. Mengeluarkan sebagian harta yang kita miliki sebagai penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari kebatilan dan kekotoran, untuk memberi makan kepada orang-orang miskin serta sebagai rasa syukur kepada Allah atas selesainya menunaikan kewajiban puasa agar kebutuhan mereka tercukupi pada hari raya.

Hukum zakat fitrah adalah fardu’ain yaitu wajib dilaksanakan setiap umat Islam, baik tua atau muda dan anak-anak yang baru dilahirkan ibunya, termasuk orang-orang yang menjadi tanggungan orang yang wajib membayar zakat.

Adapun tujuan dari zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan orang-orang miskin pada hari raya idul fitri dan untuk menghibur mereka dengan sesuatu yang menjadi makanan pokok penduduk negeri tersebut.

Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah :

1). Islam

2). Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulan ramadhan

3). Memiliki kelebihan harta dan keperluan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk yang wajib dinafkahinya baik manusia ataupun binatang pada malam hari raya dan siang harinya, sabda rasulullah.


Waktu dan Hukum Membayar Zakat Fitrah:

1). Waktu yang dibolehkan yaitu dari awal ramadhan sampai hari penghabisan ramadhan

2). Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan ramadhan

3). Waktu yang lebih baik (sunnah), yaitu dibayar sesudah shalat subuh sebelum pergi sholat hari raya


Artinya: “Dari Ibn Abbas, ia berkata: telah diwajibkan oleh rasulullah saw zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang puasa dan memberi makan bagi orang miskin, barang siapa yang menunaikannya sebelum sholat hari raya maka zakat itu diterima, dan barang siapa membayarnya sesudah sholat hari raya maka zakat itu sebagai sedekah biasa”(HR Abu Dawud dan Ibn Majah)

4). Waktu makruh, yaitu membayar fitrah sesudah hari raya tetapi sebelum terbenam matahari pada hari raya

5). Waktu haram, yaitu apabila sengaja dibayar sesudah terbenam matahari pada hari raya.


Hukum membayar Zakat Fitrah adalah wajib bagi setiap muslim yang memiliki sisa bahan makanan sebanyak satu sha’ untuk dirinya dan keluarganya selama sehari semalam ketika hari raya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

 فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id.  (HR. Bukhari)

2. Zakat Mal

Menurut bahasa (etimilogi), maal (harta) ialah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk dimilikinya, memanfaatkan dan menyimpannya. Menurut syara’ (terminologi), maal (harta) ialah segala sesuatu yang dimiliki (dikuasai) dan dapat dipergunakan. Jadi zakat Maal juga disebut zakat harta yaitu kewajiban umat Islam yang memiliki harta benda tertentu untuk diberikan kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan nisab (ukuran banyaknya) dan dalam jangka waktu  tertentu. Adapun  tujuan daripada zakat maal adalah untuk membersihkan dan mensucikan harta benda mereka dari hak-hak kaum miskin diantara umat Islam.A

llah berfirman dalam surah az-Zariyat/51 : ayat 19 :

وَفِيْ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ (الذاريت: ١٩)

Artinya : Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.


Syarat-syarat Harta yang Wajib dikerluarkan Zakatnya:

1). Harta tersebut harus didapat dengan cara yang baik dan halal.

2). Harta tersebut berkembang dan berpotensi untuk dikembangkan, misal melalui kegiatan usaha perdagangan dan lain-lain.

3). Milik penuh, harta tersebut di bawah kontrol kekuasaan pemiliknya, dan tidak tersangkut dengan hak orang lain.

4). Mencapai nisab, mencapai jumlah minimal yang menyebabkan harta terkena kewajiban zakat, misal nisab zakat emas 93,6 gr, nisab zakat hewan ternak kambing adalah 40 ekor dan sebagainya.

5). Sudah mencapai 1 tahun kepemilikan.

6). Sudah terpenuhi kebutuhan pokok. Yang dikeluarkan zakat adalah kelebihannya.


   Harta Benda Yang wajib dizakati:

1). Emas dan Perak

2). Binatang Ternak (Zakat An'am)



3). Pertanian

   Keterangan:
       Apabila pertanian airnya alami (tadah hujan )  atau sumber yang didapatkan dengan tidak mengeluarkan biaya maka zakatnya 10 %.A
    Apabila pertanian atau perkebunan irigási dan ada pengeluaran biaya untuk mendapatkan air tersebut maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 5 %.

5). Zakat Profesi (Kontemporer)


5). Unggas

Untuk ketentuan zakat unggas ini disamakan dengan batas  nisab emas yaitu 93,6 gram. Jika harga emas Rp. 65.000/gram maka  emas 93,6 gr x Rp. 65.000 = Rp. 6.084.000,00.

Apabila seseorang memiliki usaha unggas dalam satu tahunnya memiliki keuntungan Rp. 6.084.000,00 maka yang bersangkutan telah wajib membayar zakat  2,5 % dari total keuntungan selama 1 tahun.

Contoh :

Pak Irfan memiliki usaha ayam potong 4.000 ekor. Setiap penjualan memiliki keuntungan rata-rata Rp. 2.000.000. dalam 1 tahun dapat menjual sebanyak 8 kali. Jadi total keuntungan dalam 1 tahun Rp. 16.000.000. Zakat yang dikeluarkan adalah Rp. 16.000.000 X 2,5 % = Rp. 400.000


6). Barang Temuan ( Zakat Rikaz)

Yang dimaksud barang temuan/ rikaz adalah barang-barang berharga yang  terpendam peninggalan orang-orang terdahulu. Adapun jumlah nisabnya seharga emas  93,6 gram.

Bagi seseorang yang menemukan emas maka minimal nisabnya adalah 93,6 gram dan dizakati 20 % dari nilai emas tersebut.

Contoh : 

Pak Arman menemukan arca mini emas seberat  2 ons, maka zakat yang harus dkeluarkan adalah 2 x 20 %= 40 gram.

Bila yang ditemukan perak maka nisabnya seberat 624 gram dan nilai zakatnya sama dengan emas yaitu 20 %.


Arti Istilah-istilah dalam Zakat:

Nishab : Batas minimal harta kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya

Kadar : Prosentase atau besarnya zakat yang harus dikeluarkan.

Haul Waktu atau masa yang disyaratkan untuk mengeluarkan zakat terhadap harta yang dimiliki.


Orang Yang berhak menerima  Zakat ada 8 golongan atau kelompok, seperti yang yang difirmankan Allah dalam surat at- Taubah ( Q.S.: 9 )ayat 60: 

اِنَّمَاالصَّدَقَتُ لِلْفُقَرَآءِ وَالْمَسَكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ فَرِيْضَةً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ (التوبة: ٦٠)

Artinya : Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat,  yang dilunakkan hatinya ( muallaf), untuk (memerdekakan hamba sahaya), untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.


Dari ayat diatas yang berhak menerima zakat dapat dirinci sebagai berikut:

1). Fakir ádalah orang yang tidak memiliki harta benda dan tidak memiliki pekerjaan untuk mencarinya.

2). Miskin  adalah orang yang  memiliki harta tetapi hanya cukup untuk memenuhi  kebutuhan hidupnya.

3). 'Amil adalah orang yang mengelola  pengumpulan dan pembagian zakat

4). Muallaf adalah orang yang masih lemah imannya karena baru mengenal dan menyatakan masuk Islam.

5). Budak yaitu budak sahaya yang memiliki kesempatan untuk merdeka tetapi tidak memiliki  harta benda untuk menebusnya.

6). Gharim yaitu orang yang memiliki hutang banyak  sedangkan dia tidak bisa melunasinya.

7). Fisabilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah sedangkan dalam perjuangannya tidak mendapatkan gaji dari siapapun.

8). Ibnu Sabil yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, sehingga sangat membutuhkan bantuan.




Pengertian Wakaf, Hukum, Rukun, Syarat dan Hikmah Serta Pedoman Pelaksanaan Wakaf di Indonesia

By On Mei 07, 2022

PENGERTIAN WAKAF, HUKUM, RUKUN, SYARAT DAN HIKMAH SERTA PEDOMAN PELAKSANAAN WAKAF DI INDONESIA

1. Pengertian Wakaf

Wakaf ialah mengalihkan hak milik pribadi menjadi milik suatu badan atau organisasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan kebaikan dan ridho Allah atau waqof dapat di artikan pemindahan kepemilikan suatu barang yang dapat bertahan lama untuk di ambil manfaatnya bagi masyarakat dengan tujuan ibadah dan mencari ridho Allah. Barang tersebut tidak boleh di perjual belikan atau di hadiahkan kepada orang lain atau di wariskan. Atau memberikan suatu benda atau harta yang dapat di ambil manfaatnya untuk di gunakan bagi kepentingan masyarakat menuju keridloan Allah SWT.



Firman Allah SWT. :
Artinya :

"Dan berbuatlah kebajikan agar kamu beruntung". (QS. Al Hajj/22:  77).

Firman Allah SWT.:
Artinya :                      

"Tidak akan tercapai olehmu suatu kebaikan sebelum kamu sanggup membelanjakan sebagian  harta yang kamu sayangi" .(QS. Ali Imran/3: 92)



2. Hukum Wakaf

Waqof hukumnya sunah, hal ini di dasarkan pada Al-Qur an, firman Allah SWT.

Harta yang di waqofkan terlepas dari pemiliknya untuk selamanya,lalu menjadi milik Alloh semata-mata tidak boleh di jual atau di hibahkan untuk perseorangan dan sebagainya. Pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang mewaqofkan, karena termasuk shodaqoh jariyah.

Bagi orang yang telah menyerahkan hak miliknya untuk waqof, hilanglah hak perorangan dan Allah menggantinya dengan pahala meskipun orang yang memberikan waqof telah meninggal dunia, selama harta yang di waqofkan masih digunakan manfaatnya.

3. Rukun Wakaf

a. Orang yang mewaqofkan (waqif)
b. Pihak yang  menerima Waqof (maukuf lahu)
c.  Barang yang di waqofkan (maukuf)
d. Ikrar serah terima waqof (lafal/sighot waqof)

4. Syarat-syarat Waqaf

a. wakif mempunyai hak untuk melakukan perbuatan tersebut.
b. Atas kehendak sendiri dan tidak ada unsur -unsur paksaan.
c. Pihak yang menerima waqof jelas adanya.
d. Barang yang di waqofkan untuk kepentingan masyarakat(umum) bukan untuk kepentingan pribadi.
e. Barang yang di waqofkan berwujud nyata pada saat di serahkan.
f. Barang yang diwaqofkan adalah barang yang bisa bertahan lama.
g. Berlaku untuk selamanya, artinya tidak terikat oleh waktu tertentu.
h. Orang yang mewaqofkan tidak boleh menarik kembali waqofnya.
i. Ikrarnya jelas. lebih afdhol jika di buktikan secara tertulis misalnya dalam bentuk Akte notaris, surat    waqof dari pengadilan atau KUA.

 
5. Macam-macam Barang yang di Waqofkan

Seperti pada syarat-syarat di atas,barang yang di waqofkan itu harus kongkrit. artinya dapat di lihat wujudnya dan dapat di perhitungkan jumlah dan sifatnya. Maka tidak syah mewaqofkan sesuatu yang belum tampak. Misalnya mewaqofkan masjid yang belum di bangun atau mewaqofkan tanah yang akan di beli.

Juga barang waqof adalah yang bisa bertahan lama. Misalnya bangunan, tanah, kitab/buku, al-Quran alat-alat kantor/rumah tangga: seperti tikar, bangku, meja dan lain dan lain-lain. Maka barang yang tidak bisa bertahan lama tidak termasuk barang waqof. Misalnya beras,minuman dan sebagainya. Barang-barang seperti ini termasuk hadiah atau infak, atau shodaqoh dalam pengertian umum.

Barang yang di waqofkan juga bukan barang yang terlarang / haram zatnya maupun terlarang / haram hakikatnya  seperti barang curian. sebab waqof hanya terjadi pada hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi  masyarakat banyak, baik untuk beribadah kepada Alloh secara langsung (vertical) maupun hubungan sesama manusia (horizontal)

6. Mengganti Barang waqof

Prinsip-prinsip di atas adalah pemilikan terhadap manfaat suatu barang.barang asalnya tetap, tidak boleh di berikan, di jual atau di bagikan. maka barang yang di waqofkan tidak boleh diganti.namun persoalannya akan lain jika misalnya barang waqof itu tadi sudah tidak bisa di manfaatkan, kecuali dengan memperhitungkan harga atau nilai jual setelah setelah barang tersebut dijual. artinya hasil jualnya di belikan gantinya. dalam keadaan seperti ini mengganti barang waqof di bolehkan.

Adapun sebab-sebab penggantian barang wakaf antara lain sebagaimana di bawah ini :

a.  Penggantian karena rusak, sehingga manfaatnya berkurang atau mungkin hilang. Misalnya, wakaf sound system yang sudah rusak karena sudah lama dipakai. Lalu diganti dengan yang lebih baik. Contoh lain misalnya mengganti (membangun) masjid yang rusak, Meskipun bangunan masjid itu adalah wakaf, maka karena manfaatnya semakin hilang, maka dibolehkan untuk menggantikannya agar dapat mencapai maksud yang sebenarnya.

b. Penggantian karena kepentingan yang lebih besar. Misalnya mengganti masjid dengan yang lebih layak lagi bagi kepentingan penduduk setempat. Ini diperbolehkan oleh imam ahmad, yang berdalih bahwa umar bin khattab memindahkan masjid kufa ke tempat yang lain yang lebih layak. Sementara masjid lama tanahnya dijadikan pasar buah-buahan. Demikian juga bila yang di wakafkan itu menghasilkan sesuatu, boleh juga diganti dengan yang lebih baik. Misalnya, wakaf warung/kedai, kebun dll. Yang demikian itu adalah pendapat abu tsaur dan ulama-ulama lainnya seperti abu ubaid dan harbawaihi. Hal ini merupakan kias dari ucapan imam ahmad tentang pemindahan masjid. Bahkan diperbolehkan menggantikan bangunan masjid dengan bukan masjid karena alasan kemaslahatan atau manfaat, akan tetapi imam syafi'I melarang menggantikan masjid, hadiah dan tanah wakaf dengan yang lain.

c. Penggantian karena kebutuhan, misalnya kuda perang yang di wakafkan, dijual dan harganya/uang penjualannya dibelikan sesuatu yang lebih dibutuhkan masyarakat. Menggantikan wakaf semen untuk bangunan masjid karena jumlahnya sudah terlalu banyak, lalu dijual dan di belikan ubin yang sangat dibutuhkan dll.

 
Pedoman Pelaksanaan Wakaf di Indonesia

Ketentuan-ketentuan umum tentang perwakafan adalah sebagaimana tertuang dalam rukun dan syarat-syarat wakaf. Akan tetapi, tentang wakaf pertanahan yang tidak berubah, telah diatur dalam perundang-undangan pemerintah, sebagaimana dibawah ini:

a.    Landasan
   1. Peraturan pemerintah No. 28 tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik.

      2. Peraturan menteri dalam negeri No. 6 tahun 1977 tentang tata cara pendaftaran tanah mengenai perwakafan hak milik.

   3. Peraturan menteri agama No. 1/1978 tentang peraturan pelaksanaan PP No. 28/1977 tentang perwakafan tanah milik.

  4. Peraturan direktur jenderal bimbingan masyarakat islam departemen agama No. kep/p/75/1978 tentang formulir dan pedoman pelaksanaan peraturan-peraturan tentang perwakafan tanah milik.

b.  Tata Cara Perwakafan Tanah Milik

   1. Calon wakif/pihak yang hendak mewakafkan tanah miliknya harus datang di hadapan pejabat pembuat akta ikrar wakaf (PPAIW) untuk melaksanakan ikrar wakaf.

  2. Untuk mewakafkan tanah miliknya, calon wakif harus mengikrarkan secara lisan, jelas dan tegas kepada nadzir yang telah di syahkan di hadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf dan dihadiri saksi-saksi dan menuangkannya dalam bentuk tulisan atau dengan surat.

      3. Calon wakif yang tidak datang di hadapan PPAIW membuat ikrar wakaf secara tulisan dengan persetujuan kepala kantor kementerian agama/kodya yang mewilayahi tanah wakaf dan dibacakan kepada nadzir dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah weakaf serta di ketahui saksi.

  4. Tanah yang diwakafkan baik seluruhnya maupun sebagaian harus merupakan tanah milik dan harus bebas dari beban ikatan, jaminan, sistem atau sengketa.

  5. Saksi ikrar wakaf sekurang-kurangnya , PPAIW membuat akta ikrar wakaf dewasa dan sehat akalnya.

     Segera setelah ada ikrar wakaf, PPAIW membuat akta ikrar wakaf tanah.


c. Surat yang harus di bawa dan diserahkan oleh wWakif kepada PPAIW

Sebelum melaksanakan ikrar wakaf, calon wakif harus membawa serta dan menyerahkan kepada PPAIW surat-surat berikut :

1. Sertifikat hak milik atau sertifikat sementara pemilik tanah (model E)

2. Surat keterangan kepala desa yang diperkuat oleh camat setempat yang menerangkan kebenaran pemilik tanah dan tidak tersangkut suatu perkara dan dapat di wakafkan.

3. Izin dari bupati/walikota kepala subdit agraria setempat.

 d.    Nadzir, hak dan kewajibannya

Nadzir adalah kelompok orang atau badan hukum Indonesia yang diserahi tugas pemeliharaan dan pengurusan benda wakaf.

1.    Hak Nadzir 

 a. Nadzir berhak menerima penghasilan dari hasil tanah wakaf yang biasanya ditentukan oleh kepala kantor kementerian agama kabupaten/kodya dengan ketentuan tidak melebihi 10% dari hasil bersih tanah wakaf.

 b. Nadzir dalam menunaikan tugasnya dapat menggunakan fasilitas yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh kepala kantor kementerian agama kabupaten/kotamadya.

2.    Kewajiban nadzir

Kewajiban nadzir adalah mengurus dan mengawasi harta kekayaan wakaf dan hasilnya, antara lain :

   a. menyimpan dengan baik lembar kedua salinan akte ikrar Wakaf .

  b. memelihara dan memanfaatkan tanah wakaf serta berusaha menigkatkan hasilnya .

   c. menggunakan hasil wakaf sesuai dengan ikrar wakaf

Hikmah Wakaf

Banyak sekali hikmah dan manfaat dari pada wakaf , antara lain sebagai berikut :

a. Mendidik manusia untuk bershodaqah dan selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

b. Membantu, mempercepat perkembangan agama islam , baik sarana, prasarana umum berbagai perlengkapan yang diperlukan dalam pengembangan agama .

c. Membantu masyrakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau memecahkan berbagai permasalahan yang timbul.

d. Dapat membantu dan mencerdaskan masyarakat, misalnya wakaf buku, kitab, Al-Quran dan lain-lain.

e. Menghimpun kekuatan dalam masyarakat, baik lahir maupun batin, baik materiil maupun spiritual.

       

Menerima dan Menyalurkan Zakat, Infaq, Wakaf dan Shodaqoh

By On Mei 06, 2022

MENERIMA DAN MENYALURKAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Sahabat-sahabatku yang berbahagia, kami pengurus Yayasan Al Amin Center Bangkalan siap menerima dan menyalurkan zakat, infaq, waqaf maupun shodaqah dari para muzakki, waaqif, donatur dan dermawan kepada yang berhak menerimanya. Semoga ini menjadi ladang amal ibadah dan amal jariyah buat kita semua, Aamiin. 

Perlu diketahui bahwa Yayasan Al Amin Center Bangkalan juga membutuhkan tanah waqaf dan bangunan untuk kebutuhan pengembangan lembaga pendidikan dan tempat ibadah dibawah naungan yayasan. Semoga kedepan Yayasan Al Amin Center Bangkalan semakin berkembang pesat, semakin barokah dan semakin bermanfaat khususnya untuk para santri dan masyarakat pada umumnya, Aamiin Ya Robbal 'Alamiin










Berikut ini kami jelaskan juga pengertian atau perbedaan antara zakat, Infaq, Waqaf dan Shodaqoh:

Pengertian Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan wajib ditunaikan jika sudah memenuhi ketentuan-ketentuannya. Para ulama mendefiniskan zakat sebagai berikut:

“Zakat adalah sebuah nama untuk menyebutkan kadar harta tertentu yang didistribusikan kepada kelompok tertentu pula dengan pelbagai syarat-syaratnya”. (Muhammad al-Khatib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 1, h. 368).

Pengertian Infaq

Infak adalah menggunakan atau membelanjakan harta-benda untuk pelbagai kebaikan, seperti untuk pergi haji, umrah, menafkahi keluarga, menunaikan zakat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu orang yang menghambur-hamburkan atau yang menyia-nyiakan harta bendanya tidak bisa disebut munfiq (orang yang berinfak). Pengertian Infak ini sebagaimana dikemukakan Imam Fakhruddin ar-Razi:

“Ketahuilah bahwa Infak adalah membelanjakan harta-benda untuk hal-hal yang mengandung kemaslahatan. Oleh karena itu orang yang menyia-nyiakan harta bendanya tidak bisa disebut sebagai munfiq (orang yang berInfak). (Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Bairut-Daru Ihya` at-Turats al-‘Arabi, tt, juz, 5, h. 293).

Pengertian Shodaqah

Selanjutnya shadaqah, menurut ar-Raghib al-Ishfani adalah harta benda yang dikeluarkan orang dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Shadaqah adalah harta-benda yang dikeluarkan orang dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Namun pada dasarnya shadaqah itu digunakan untuk sesuatu yang disunnahkan, sedang zakat untuk sesuatu yang diwajibkan”. (Abdurra’uf am-Manawi, at-Tauqif fi Muhimmat at-Ta’arif, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1410 H, h. 453)

Dari penjelasan di atas setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa Infak itu lebih umum karena mencakup juga shadaqah dan zakat. Sedangkan shadaqah adalah apa yang diberikan oleh seseorang dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, dan tercakup di dalamnya adalah zakat.

Bedanya, zakat itu merupakan shadaqah wajib yang diambil dari harta yang tertentu seperti emas, perak (atau harta simpanan), dan binatang ternak. Disamping itu zakat diberikan kepada kalangan tertentu yang jumlahnya delapan (al-ashnaf ats-tsamaniyah), dan pada waktu tertentu juga.

Di sisi lain, shadaqah itu ada dua. Pertama adalah shadaqah wajib yang disebut zakat. Kedua adalah shadaqah tathawwu` atau shadaqah sunnah. Shadaqah tathawwu` tidak harus diberikan ke delapan golongan yang wajib menerima zakat. Namun kata shadaqah kemudian lebih digunakan untuk shadaqah tathawwu` untuk membedakan dengan istilah zakat.

Hal lain yang juga membedakan shadaqah tathawwu` adalah shadaqah tathawwu` lebih utama diberikan secara diam-diam, sedangkan zakat lebih utama diberikan secara terbuka, agar bisa menjadi taulan bagi yang lainnya.

“Imam ath-Thabari dan ulama lainnya telah menukil ijma’ bahwa diam-diam dalam memberikan shadaqah tathawwu` itu lebih utama, dan memperlihatkan dalam memberikan shadaqah wajib (zakat) itu lebih utama”. (Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyah Kuwait, al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Bairut-Dar as-Salasil, cet ke-2, 1404 H, juz, 2, h. 287).

Pengertian Waqof

Wakaf adalah menahan harta yang bisa diambil manfaaatnya dengan tetap kekalnya dzat harta itu sendiri dan mantasharrufkan kemanfaatannya di jalan kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. Konsekuensi dari hal ini adalah dzat harta-benda yang diwakafkan tidak boleh ditasharrufkan. Sebab yang ditasharrufkan adalah manfaatnya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh penulis kitab Kifayah al-Akhyar sebagai berikut;

“Definisi wakaf menurut syara’ adalah menahan harta-benda yang memungkinkan untuk mengambil manfaatnya beserta kekalnya dzat harta-benda itu sendiri, dilarang untuk mentasaharrufkan dzatnya. Sedang mentasharrufkan kemanfaatannya itu dalam hal kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt” (Taqiyyuddin Abi Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, tt, juz, 1, h. 256).

Persoalannya bagaimana dengan wakaf uang? Dalam kasus ini setidaknya para ulama terbelah menjadi dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa bahwa wakaf uang (waqf an-nuqud) secara mutlak tidak diperbolehkan.

“Adapun wakaf sesuatu yang tidak bisa diambil manfaatnya kecuali dengan melenyapkannya seperti emas, perak, makanan, dan minuman maka tidak boleh menurut mayoritas fuqaha. Yang dimaksud dengan emas dan perak adalah dinar dan dirham dan yang bukan dijadikan perhiasan”. (Syaikh Nizham dan para ulama India, al-Fatawa al-Hindiyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 2, h. 362)

Sedang pendapat kedua menyatakan bahwa wakaf uang diperbolehkan. Hal sebagaimana pandangan Ibnu Syihab az-Zuhri yang memperbolehkan wakaf dinar sebagaimana dinukil al-Bukhari.

“Telah dinisbatkan pendapat yang mensahkan wakaf dinar kepada Ibnu Syihab az-Zuhri dalam riwayat yang telah dinukil Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Ia berkata, Ibnu Syihab az-Zuhri berkata mengenai seseorang yang menjadikan seribu dinar di jalan Allah (mewakafkan). Ia pun memberikan uang tersebut kepada budak laki-lakinya yang menjadi pedagang. Maka si budak pun mengelola uang tersebut untuk berdagang dan menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miskin dan kerabat dekatnya. Lantas, apakah lelaki tersebut boleh memakan dari keuntungan seribu dinar tersebut jika ia tidak menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miksin? Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, ia tidak boleh memakan keuntungan dari seribu dinar tersebut” (Abu Su’ud Muhammad bin Muhammad Mushthafa al-‘Imadi al-Afandi al-Hanafi, Risalah fi Jawazi Waqf an-Nuqud, Bairut-Dar Ibn Hazm, cet ke-1, 1417 H/1997 M, h. 20-21).

Dengan mengacu kepada pendapat Ibnu Syihab az-Zuhri ini maka cara atau teknik mewakafkan uang adalah dengan menjadikannya sebagai modal usaha. Dan keuntungan yang diperoleh diberikan kepada mauquf ‘alaih atau pihak yang menerima manfaat dari harta wakaf.

Dari penjelasan singkat ini dapat dipahami bahwa wakaf uang termasuk bagian dari infak. Sebab, infak —sebagaimana telah dijelaskan— adalah menggunakan atau membelanjakan harta-benda untuk pelbagai kebaikan, seperti untuk pergi haji, umrah, menafkahi keluarga, menunaikan zakat, dan lain sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah wakaf dengan pelbagai macamnya.

Download KMA (Keputusan Menteri Agama) Nomor 347 Tahun 2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah

By On April 25, 2022

DOWNLOAD KMA (KEPUTUSAN MENTERI AGAMA) NOMOR 347 TAHUN 2022 TENTANG PEDOMAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA MADRASAH


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 mengamanatkan bahwa Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan prinsip memberi keteladanan, membangun motivasi, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran.

Diberlakukannya Keputusan Menteri Agama Nomor 792 Tahun 2018 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Raudhatul Athfal, Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab Pada Madrasah, dan Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah, memberikan ruang pada madrasah untuk melakukan kreasi dan inovasi dalam pengelolaan pendidikan dan pembelajaran.

Sejalan dengan hal tersebut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah meluncurkan Kurikulum Merdeka yang akan diberlakukan mulai tahun pelajaran 2022/2023. Konsep dari kurikulum merdeka antara lain adanya penyederhanaan kurikulum, memberi ruang kreasi dan fleksibilitas satuan pendidikan dalam pengelolaan pembelajaran.

Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran abad-21 serta perkembangan dunia yang sangat dinamis dan tidak menentu, maka diperlukan pola baru dalam pengelolaan pendidikan dan pembelajaran pada madrasah. Madrasah harus senantiasa melakukan perubahan dan perbaikan berkelanjutan, berani melakukan inovasi atau terobosan baru, serta memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal untuk meningkatkan mutu layanan kepada seluruh warga madrasah. Madrasah harus memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan dan kemandirian dalam berkreasi, berinovasi, menciptakan layanan yang humanis, ramah, serta adaptif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu Kementerian Agama RI senantiasa mendorong dan memberi ruang yang seluas-luasnya kepada madrasah dalam mengembangkan kurikulum operasional pada tingkat satuan pendidikan, sesuai potensi dan kekhasan madrasah. 


B. Maksud dan Tujuan

Maksud :
Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah dimaksudkan sebagai panduan Madrasah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan di madrasah sesuai karakteristik kebutuhan dan pengelolaan pendidikan di Madrasah.

Tujuan :
Pedoman Kurikulum Merdeka pada Madrasah bertujuan untuk memberi kemandirian madrasah dalam mengelola pendidikan dan pembelajaran, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing madrasah sesuai dengan tuntutan kompetensi abad-21.

C. Sasaran
Sasaran pedoman implementasi kurikulum merdeka pada madrasah adalah satuan pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengelola pendidikan dan pembelajaran di madrasah.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pedoman implementasi kurikulum merdeka pada madrasah meliputi:

1. Standar Kelulusan
2. Standar Isi
3. Struktur Kurikulum
4. Implementasi Kurikulum di Madrasah
5. Pembelajaran dan Asesmen
6. Penguatan Profil Pelajar Pancasila
7. Kurikulum Operasional Madrasah
8. Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Madrasah
9. Sosialisasi dan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah
10. Capaian Pembelajaran

E. Pengertian Umum
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:

1. Madrasah adalah satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dan kejuruan dengan kekhasan agama Islam yang mencakup Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan.

2. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disingkat RA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun.

3. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disingkat MI adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam yang terdiri dari 6 (enam) tingkat pada jenjang pendidikan dasar.

4. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disingkat MTs adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam yang terdiri dari 3 (tiga) tingkat pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari Sekolah Dasar, MI, atau bentuk lain yang sederajat.

5. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disingkat MA adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari Sekolah Menengah Pertama, MTs, atau bentuk lain yang sederajat.

6. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disingkat MAK adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari Sekolah Menengah Pertama, MTs, atau bentuk lain yang sederajat.

7. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

8. Kurikulum Merdeka di Madrasah adalah kurikulum mata pelajaran selain PAI dan Bahasa Arab yang disusun oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kurikulum Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab khusus Madrasah yang dikembangkan oleh Kementerian Agama, dan nilai-nilai kekhasan Madrasah yang dikembangkan oleh madrasah.

9. Implementasi kurikulum merdeka di madrasah adalah pelaksanaan kurikulum yang memberi ruang kreativitas dan inovasi kepada madrasah dalam mengembangkan kurikulum operasional pada tingkat satuan pendidikan.

10. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK.

11. Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis Pendidikan tertentu.

12, Peserta Didik Berkebutuhan khusus adalah peserta didik penyandang disabilitas, atau memiliki kesulitan/hambatan/kelainan/gangguan lain dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

13. Peserta Didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa adalah Peserta didik yang memiliki kapasitas intelektual atau perkembangan kemampuan berfikir yang melampaui usianya sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus.

14. Peserta didik yang memiliki bakat istimewa adalah peserta didik yang memiliki bakat pada bidang tertentu secara istimewa dengan potensi melebihi peserta didik pada umumnya.

15. Supervisi pembelajaran adalah usaha pendampingan dan pembinaan dalam rangka peningkatan kemampuan pengelola pembelajaran, baik guru, kepala madrasah, serta tenaga kependidikan lainnya.

16. Pemerintah adalah Kementerian/Lembaga Pemerintah yang berwenang.

17. Kementerian adalah Kementerian Agama Republik Indonesia.

18. Direktorat Jenderal adalah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

19. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pendidikan Islam.



Selengkapnya Silahkan


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *