Jasa Guru Ngaji yang Sering Terlupakan

By On November 24, 2021

JASA GURU NGAJI YANG SERING  TERLUPAKAN

Mungkin guru ngaji kita seorang ustadz/ustadzah yang sederhana.

Mungkin guru ngaji kita tidak rupawan, tidak ahli ceramah, Tidak gajian.

Tidak punya gelar pendidikan.

Tidak dikenal banyak orang. 

Tidak pernah tampil di tv, radio dan koran.

Mungkin penampilannya biasa-biasa saja.


MUNGKIN DI MATA DUNIA BELIAU TIDAK DIPERHITUNGKAN

Tapi ingat jasa-jasa luar biasa guru ngaji kita yang tidak bisa dinilai dengan apapun.



1. Jika iman adalah jalan keselamatan, ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat, guru ngaji kitalah yang menanamkannya pada kita.


2. Jika isi otak, hati dan jiwa manusia lebih utama daripada isi perut manusia. Guru ngaji kitalah yang telah mengisi ilmu dan ruhiyah otak, hati dan jiwa kita. 


3. Jika surga adalah ukuran suksesnya manusia.Guru ngaji kitalah yang gigih mengarahkan kita ke jalan surga.


4. Jika orang tua hanya menyuruh kita beribadah,guru ngaji kitalah yang mengajarkan kita segala macam ibadah.


5. Jika Al-Qur'an adalah pedoman hidup kita, lezat membacanya, ni'mat mentadabburinya, manfaat mengamalkannya. Guru ngaji kitalah yang dulu susah payah mengajarkannya.


6. Jika dekat dengan Allah adalah sebaik-baiknya keadaan, guru ngaji kitalah yang mendekatkan kita kepada-Nya.


7. Jika sekarang kita mensyukuri kesholehan diri, pasangan dan keturunan. Guru ngaji kitalah yang menjadi asbab kesholehan kita.


8. Jika karena akhlak kita orang-orang menyukai kita, banyak teman, banyak saudara dimudahkan segala urusan. Guru ngaji kitalah yang mengajarkan akhlak mulia.


TERIMAKASIH GURU NGAJIKU


Baca Juga : Hilangnya Keberkahan Ilmu Anak Kerana Prilaku Buruk Orang Tua Terhadap Guru

Hilangnya Keberkahan Ilmu Anak Karena Prilaku Buruk Orang Tua Terhadap Gurunya

By On November 24, 2021

HILANGNYA KEBERKAHAN ILMU ANAK, KARENA PRILAKU BURUK ORANG TUA TERHADAP GURUNYA

Sahabat untuk mendapatkan ilmu yang barokah dan manfaat kita harus tahu dan mengamalkan adab atau tatakramanya dalam menuntut ilmu, salah satunya adalah kita harus senantiasa menghormati sang guru, bukan hanya anak akan tetapi kita sebagai  orang tua juga harus menghormati guru dari anak-anak kita. Berikut ini kami ceritakan sebuah kisah Syekh Abdul Qadir dan Santri-santrinya.


Syekh Abdul Qadir adalah seorang ulama yang terkenal pada zamannya. Murid-muridnya berasal dari berbagai kalangan. Ada anak orang kaya, ada anak penguasa, ada juga anak pedagang dan anak-anak orang miskin. Di madrasah Syekh Abdul Qadir tidak ada dikriminasi, semua murid diperlakukan sama.

Di madrasah Syekh Abdul Qadir diperkenalkan ilmu dan lebih diutamakan adab, termasuk adab kepada guru yang dijunjung tinggi. Termasuk adab yang diajarkan adalah bagaimana murid berhikmat dan meraih keberkahan dari gurunya.

Sebuah kebiasaan bahwa ketika sang guru sedang menyantap makanan, maka murid-murid tidak ada yang ikut makan sebelum gurunya selesai, ternyata ada tradisi meraih berkah ilmu dengan memakan sisa makanan gurunya.

Syekh Abdul Qadir paham hal tersebut sehingga ia selalu menyisahkan makanannya untuk di ambil oleh murid-muridnya. Seorang tamu yang datang menjenguk anaknya melihat hal itu dan berfikir bahwa anak-anak mereka yang belajar pada Syekh Abdul Qadir diperlakukan seperti babu atau kucing. Masa mereka diberikan sisa makanan dari gurunya. Pikiran kotor inilah yang menyebabkan orang tua murid tadi memprofokasi orang tua lainnya.

Salah satu orang tua yang merupakan orang terpandang, kaya dan penguasa termakan propokasi dan datang menghadap Syekh Abdul Qadir dan mengungkapkan keberatannya atas perlakuan sang guru kepada anaknya yang dianggap melecehkan kehormatannya dan kehormatan anaknya.

Maka terjadilah dialog sebagai berikut:

“Wahai tuan syekh, saya menghantar anak saya kepada tuan syekh bukan untuk jadi pembantu atau dilakukan seperti kucing. Saya hantar kepada tuan syekh, supaya anak saya jadi alim ulama’.”

Syekh Abdul Qadir hanya jawab ringkas saja. “ Kalau begitu ambillah anakmu.”

Maka si bapak tadi mengambil anaknya untuk pulang. Ketika keluar dari rumah syekh menuju jalan pulang. Orang tua murid tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum syariat, ternyata kesemua soalannya dijawab dengan tepat dan rinci. Maka bapak tadi berubah fikiran dan mengembalikan anaknya kepada tuan Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan syekh terimalah anak saya untuk belajar dengan tuan kembali. Tuan didiklah anak saya. Ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga diperlakukan seperti kucing. Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa bila bersamamu.”

Maka jawab tuan Syekh Abdul Qadir. “Bukan aku tidak mau menerimanya kembali, tapi ALLAH sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ILMU dariku, ALLAH sudah menutup futuhnya (Mata Hati) untuk mendapat ilmu disebabkan orang tua yang tidak beradab kepada GURU.”

Ternyata orang tua yang tidak beradab pada guru bisa menyebabkan anak-anaknya menjadi korban kehilangan keberkahan ilmu dari guru-gurunya.

Begitulah ADAB dalam menuntut ilmu. Anak, Ibu, Ayah dan siapa pun perlu menjaga adab kepada guru. Kata ulama: Satu perasangka buruk saja kepada gurumu maka Allah haramkan seluruh keberkatan yang ada pada gurumu kepadamu.

Kisah ini adalah refleksi untuk para orang tua siswa, sia-sialah kita menyekolahkan anak kita kalau pada akhirnya ilmu yang diperolehnya tidak berberkah. Karena kita sebagai orang tua yang tidak beradab kepada guru sehingga anak-anak kitapun menjadi kehilangan adab kepada gurunya.

Semoga kita semua dan anak keturunan kita senantiasa mendapat Rahmat dan Ridlo Allah SWT, mendapatkan banyak ilmu yang barokah dan bermanfaat, Aamiin Ya Robbal 'Alamiin


SELAMAT HARI GURU NASIONAL, 25 November 2021

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *