10 Nama dan Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban

By On Februari 01, 2026

 10 NAMA DAN KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA'BAN


Baca Juga : Malam Nisfu Sya'ban menurut Para Ulama


Malam Nisfu Sya’ban adalah malam yang istimewa, karena banyak rahmat, berkah dan ampunan diberikan bagi umat manusia.  Oleh karenanya pada malam pertengahan Bulan Sya’ban tersebut banyak umat Islam biasa melaksanakan sejumlah amalan, diantaranya sholat, berdzikir, membaca surah Yasin dan juga doa dll.


Selain memberikan ampunan,  Allah juga akan mengabulkan hajat kita, memudahkan rezeki, melancarkan urusan, sehingga kita dianjurkan untuk tidak melewatkan momen tersebut begitu saja.  Banyak juga kalangan masyarakat yang berkumpul di masjid untuk shalat maghrib berjamaah, membaca surat Yasin tiga kali,  yang dilanjutkan dengan doa bersama.


Sebagai malam yang istimewa, Nisfu Sya’ban memiliki 10 nama yang menunjukkan keutamaan malam tersebut.  Masing-masing nama itu memiliki keagungan dan kemuliaan tersendiri yang bisa diraih oleh umat Islam. 


Al-Hafiz al-Muhaddits Syekh Salim as-Sanhuri dalam salah satu kitabnya mengungkapkan terdapat sepuluh nama agung yang disematkan pada malam itu. Di antara nama-nama itu adalah sebagai berikut: 


1. Malam yang diberkahi (Mubarakah)


Pada malam pertengahan bulan Sya’ban, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke langit dunia dan menebar kebaikan kepada manusia. Pada malam itu, jarak antara manusia dengan para malaikat sangat dekat. Kedekatan itu menjadi keberkahan tersendiri yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw. 


2. Malam Pembagian Takdir (Qismah wa at-Takdir)


Pada malam ini para malaikat turun untuk memberi keberkahan dan kebaikan serta untuk menentukan takdir kepada semua manusia. Mulai dari rezeki, jodoh, mulia, hina, pangkat, pernikahan dan yang lainnya. 


Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Atha’ bin Yasar, Rasulullah saw bersabda: 

 إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ دُفِعَ إِلَى مَلَكِ الْمَوْتِ صَحِيْفَةً فَيُقَالُ اِقْبِضْ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَنْ فِي هَذِهِ الصَّحِيْفَةِ فَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَغْرَسَ الغُرَّاسَ وَيُنْكِحَ الْأَزْوَاجَ وَيَبْنِي الْبُنْيَانَ وَإِنَّ اسْمَهُ فِي تِلْكَ الصَّحِيْفَةِ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ 

Artinya: Apabila telah datang malam pertengahan bulan Sya’ban maka diserahkan kepada malaikat maut sebuah catatan. Maka dikatakan, cabutlah pada tahun ini, nama yang ada dalam catatan itu, karena sungguh seorang hamba akan menanam tanaman, akan menikahi wanita, membangun rumah, sedangkan namanya ada dalam catatan itu dan dia tidak tahu.


Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa pada malam pertengahan bulan Sya’ban Allah menetapkan beberapa keputusan yang Dia kehendaki, kemudian menyerahkan kepada para pemiliknya pada malam Lailatul Qadar. 


3. Malam Penghapusan Dosa (at-Takfir)


Alasan di balik penamaan ini tidak lain karena pada malam tersebut Allah mengampuni semua dosa-dosa hamba-Nya yang muslim selama satu tahun, terhitung sejak malam tersebut hingga malam pertengahan bulan Sya’ban selanjutnya.  Dalam riwayat Ahmad bin Nadlar melalui jalur Sayyidina Mu’ad bin Jabar, Rasulullah bersabda:​​​​​​​

 يَطَّلِعُ اللهُ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ اِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ 

Artinya: Allah swt melihat kepada semua makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Dia memberi ampunan pada semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan (dengan saudaranya).


4. Malam diterimanya doa (al-Ijabah) 


Di antara keistimewaan malam pertengahan bulan Sya’ban adalah diterimanya semua doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat al-Baihaqi, Rasulullah saw bersabda: 

خَمْسُ لَيَالٍ لَا يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ 

Artinya: (Terdapat) lima malam, di mana doa tidak ditolak di dalamnya, yaitu: malam Jumat, malam pertama dari bulan Rajab, malam pertengahan bulan Sya’ban, dan dua malam hari raya. 


5. Malam kehidupan (al-hayat)


Orang yang beribadah kepada Allah pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Dia tidak akan mematikan hati hamba-Nya ketika hati semua manusia mati. Artinya, ketika semua makhluk senang akan dunia dan lupa akan akhirat, maka Allah tidak akan membiarkan orang yang beribadah pada malam tersebut turut terlena dengan dunia. 


Selain itu, terdapat sebuah riwayat dari Ishaq bin Rahwaih dengan sanadnya dari Wahab bin Munabbih yang menyebutkan bahwa pada malam tersebut tidak ada orang yang meninggal. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: 

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَمْ يَمُتْ أَحَدٌ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لِاشْتِغَالِ مَلَكِ الْمَوْتِ بِقَبْضِ الصَّكَاكِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 

Artinya: Jika malam pertengahan bulan Sya’ban telah datang, maka tidak akan ada seorang pun yang mati, mulai dari ujung timur hingga ujung barat, karena sibuknya malaikat pencabut nyawa dengan menerima catatan-catatan (makhluk) dari Tuhan semesta alam.


6. Hari Raya Malaikat


 Jika manusia memiliki dua hari raya agung yang selalu dirayakan dalam setiap tahunnya, yaitu hari raya fitri dan hari raya kurba, maka para malaikat juga memiliki dua hari raya yang selalu mereka rayakan dalam setiap tahunnya, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban dan malam Lailatul Qadar. 


7. Malam Syafaat


Menurut Al-Hafiz Syekh Salim as-Sanhuri, pada malam pertengahan bulan Sya’ban menjadi malam sempurnanya syafaat. Hal itu dimulai sejak tanggal 13 bulan Sya’ban, Rasulullah ditanya perihal syafaatnya yang akan diberikan kepada umatnya, saat itu ia menjawab hanya akan memberikan sepertiga kepada mereka. 


Pada malam tanggal 14, ia ditanya kembali perihal syafaat yang akan diberikan pada umatnya, saat itu ia menjawab hanya akan memberikan dua pertiga syafaat kepada mereka. Namun, tepat ketika malam nisfu Sya’ban ketika pertanyaan itu disampaikan kepada Rasulullah, dengan tegas ia menjawab bahwa syafaatnya akan diberikan semuanya kepada umatnya. Oleh karenanya, mala mini disebut dengan malam sempurnanya syafaat. 


8. Malam Kemerdekaan (al-‘Itqu)


Pada malam ini juga disebut dengan malam pemerdekaan, yaitu diangkatnya separuh umat Nabi Muhammad dari neraka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Sayyidah Aisyah, Rasululah bersabda:

 رُوِيَ أَنَّ النَّبِي كَانَ جَالِسًا فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَنَزَلَ عَلَيْهِ جِبْرِيْلُ. فَقَالَ: اِنَّ اللهَ قَدْ أَعْتَقَ مِنَ النَّارِ نِصْفَ أُمَّتِكَ 

Artinya: Diriwayatkan, sungguh Nabi Muhammad sedang duduk pada suatu malam (nisfu Sya’ban), maka datang kepadanya malaikat Jibril. Ia berkata: Sungguh Allah telah memerdekakan dari neraka separuh umatmu. 


9. Malam Pembebasan (al-Baraah)


Di antara nama-nama malam pertengahan bulan Sya’ban adalah malam pembebasan. Hal ini disebabkan pada malam itu Allah mencatat kebebasan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dari neraka, baik yang taat atau ahli maksiat. 


Pada saat yang bersamaan Allah berkata kepada mereka yang taat:  

أَوْفَيْتُ الْحَقَّ وَقُمْتَ بِشَرَائِطِ الْعُبُوْدِيَّةِ فَخُذْ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ

Artinya: Aku (Allah) telah menepati janji (kebenaran). Dan engkau telah menjalankan ketentuan seorang hamba, maka ambillah kebebasan dari neraka. 


Tidak hanya kepada orang beriman yang taat, Allah juga memberikan pembebasan kepada orang mukmin yang masih sering melakukan maksiat. Saat itu Dia berkata kepada mereka, “Aku (Allah) telah memberikan keringanan kepada kalian semua, sebab kalian tidak menjalankan hak-hak dan ketentuan seorang hamba, maka hakmu adalah siksa, namun (dengan malam nisfu Sya’ban), ambillah kebebasanmu dari neraka.


10. Malam Hadiah (al-Jaizah)


Alasan di balik penamaan malam pertengahan bulan Sya’ban dengan nama ini tidak lain karena malam mulia ini hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad, tidak bagi umat nabi-nabi sebelumnya. Oleh karenanya, mala mini merupakan hadiah langsung dari Allah secara khusus kepada umat Nabi Muhammad. 


Demikian 10 nama lain dan keutamaan malam Nisfu Sya’ban sebagaimana dilansir dari NU Online. Hendaknya kita bisa menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan berbagai amalan, karena anugerah itu hanya Allah berikan kepada kita, umat Nabi Muhammad saw.

Malam Nisfu Sya'ban Menurut Para Ulama

By On Maret 24, 2021

MALAM NISFU SYA'BAN MENURUT PARA ULAMA'

Sahabat, berikut ini adalah pendapat dari beberapa ulama tentang keutamaan malam Nisfu Sya'ban yang diambil dari beberapa sumber kitab.


1. Sahabat Abdullah bin Umar Ra

عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ خَمْسُ لَيَالِيَ لاَ يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ (أخرجه البيهقي في شعب الإيمان رقم 3711  وفي فضائل الأوقات رقم 149 وعبد الرزاق رقم 7927)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Ada 5 malam yang doa tidak akan ditolak. Yaitu doa malam Jumat, malam pertama bulan Rajab, Malam Nishfu Sya’ban dan malam dua hari raya” (al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 3811 dan dalam Fadlail al-Auqat No 149, dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf No 7928)

2. Imam asy-Syafi’I (150-204 H / 767-820 M)

قَالَ الْبَيْهَقِي قَالَ الشَّافِعِي وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمْعَةِ وَلَيْلَةِ اْلأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ (أخرجه البيهقي في السنن الكبرى رقم 6087 وفي معرفة السنن والآثار رقم 1958 وذكره الحافظ ابن حجر في تلخيص الحبير رقم 675)

Ahli hadis al-Baihaqi mengutip dari Imam Syafi’i: ” Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, dua malam hari raya dan malam Jumat” (as-Sunan al-Kubra No 6087, Ma’rifat as-Sunan wa al-Atsar No 1958, dan dikutip oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhis al-Habir No 675)

3. Ulama Syafi’iyah

قَالَ الشَّافِعِي وَاَنَا اَسْتَحِبُّ كُلَّ مَا حُكِيَتْ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ غَيْرِ اَنْ تَكُوْنَ فَرْضًا هَذَا آخِرُ كَلاَمِ الشَّافِعِي وَاسْتَحَبَّ الشَّافِعِي وَاْلاَصْحَابُ اْلاِحْيَاءَ الْمَذْكُوْرَ (المجموع للنووي 5 / 43)
“Asy-Syafii berkata: Saya menganjurkan semua yang diriwayatkan tentang ibadah di malam-malam tersebut (termasuk malam Nishfu Sya’ban), tanpa menjadikannya sebagai sesuatu yang wajib. asy-Syafii dan ulama Syafi’iyah menganjurkan ibadah dengan cara yang telah disebutkan” (Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 5/43)

4. Ahli Hadis al-Hafidz al-Iraqi (725-806 H / 1325-1404 M)

قَالَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِي مَزِيَّةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مَعَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ أَنَّهُ ذُكِرَ مَعَ النُّزُوْلِ فِيْهَا وَصْفٌ آخَرُ لَمْ يُذْكَرْ فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَهُوَ قَوْلُهُ فَيَغْفِرُ ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ وَلَيْسَ ذَا فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَلأَنَّ النُّزُوْلَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مُؤَقَّتٌ بِشَرْطِ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثِهِ وَفِيْهَا مِنَ الْغُرُوْبِ (فيض القدير للمناوي 2/ 402)
“Zainuddin al-Iraqi berkata: Keistimewaan malam Nishfu Sya’ban dimana setiap malam (rahmat) Allah turun ke langit terendah, adalah karena memiliki karakteristik tersendiri yang tidak ada dalam setiap malam, yaitu ‘Allah akan memberi ampunan’. Juga karena di setiap malam ditentukan waktunya setelah lewat tengah malam atau sepertiga akhir, sementara dalam Nishfu Sya’ban dimulai setelah terbenam matahari” (Faidl al-Qadir, Syaikh al-Munawi, 2/402)

5. Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami (909-973 H / 1504-1567 M)

وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِهَذِهِ اللَّيْلَةِ فَضْلاً وَأَنَّهُ يَقَعُ فِيْهَا مَغْفِرَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَاسْتِجَابَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْهَا (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي 2/ 80)
“Kesimpulannya, bahwa Malam Nishfu Sya’ban ini memiliki keutamaan. Di dalamnya terdapat ampunan khusus dan terkabulnya doa secara khusus. Oleh karenanya as-Syafi’i berkata: Doa dikabulkan di Malam Nishfu Sya’ban” (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah 2/80)

6. Imam Al-Fakihani berkata:

 ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيْهَا لِفَضْلِهَا . وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيْمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلُّوْا وَطَافُوْا وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحِ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يَخْتُمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ وَيَصِلُوْا ، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِـ الْحَمْدِ ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَأَخَذُوْا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَشَرِبُوْهُ وَاغْتَسَلُوْا بِهِ وَخَبَؤُوْهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى ، يَبْتَغُوْنَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ ، وَيُرْوَى فِيْهِ أَحَادِيْثُ كَثِيْرَةٌ (أخبار مكة للفاكهي – ج 5 / ص 23)

“(Bab tentang amaliah penduduk Makkah di malam Nishfu Sya’ban dan kesungguhan mereka di malam tersebut karena keutamaannya). 

Penduduk Makkah, dari dulu hingga sekarang, jika bertemu dengan malam Nishfu Sya’ban maka kebanyakan orang laki-laki dan perempuan mendatangi Masjidil Haram, mereka salat, tawaf, beribadah di malam harinya hingga pagi dengan membaca al-Quran di Masjidil Haram, hingga mengkhatamkan al-Quran keseluruhannya dan melanjutkan.

 Orang-orang diantara mereka yang melakukan salat di malam tersebut 100 rakaat, diawali dengan Hamdalah setiap rakaatnya, al-Ikhlas 100 kali, mereka juga mengambil air zamzam lalu meminumnya, menyiramkannya, dan diberikan kepada orang sakit dari mereka, adalah karena mengharap berkah di malam tersebut. 

Telah diriwayatkan beberapa hadis yang banyak tentang malam Nishfu Sya’ban” (Syaikh al-Fakihani, Akhbar Makkah 5/23)

*(Catatan) Ulama Syafiiyah menegaskan bahwa salat 100 rakaat di malam Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang buruk, hadisnya adalah hadis palsu (Ianat ath-Thalibin)

7. Syaikh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M. Ideolog Utama aliran Wahabi)

وَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقَدْ رُوِىَ فِي فَضْلِهَا مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمَرْفُوْعَةِ وَاْلآثَارِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهَا لَيْلَةٌ مُفَضَّلَةٌ وَأَنَّ مِنَ السَّلَفِ مَنْ كَانَ يَخُصُّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا وَصَوْمُ شَهْرِ شَعْبَانَ قَدْ جَاءَتْ فِيْهِ أَحَادِيْثُ صَحِيْحَةٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْخَلَفِ مَنْ أَنْكَرَ فَضْلَهَا وَطَعَنَ فِي اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا كَحَدِيْثِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ فِيْهَا ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ بَنِي كَلْبٍ وَقَالَ لاَ فَرْقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ غَيْرِهَا لَكِنِ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَوْ أَكْثَرُهُمْ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ عَلَى تَفْضِيْلِهَا وَعَلَيْهِ يَدُلُّ نَصُّ أَحْمَدَ لِتَعَدُّدِ اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا وَمَا يُصَدِّقُ ذَلِكَ مِنَ اْلآثَارِ السَّلَفِيَّةِ وَقَدْ رُوِِىَ بَعْضُ فَضَائِلِهَا فِي الْمَسَانِيْدِ وَالسُّنَنِ وَإِنْ كَانَ قَدْ وُضِعَ فِيْهَا أَشْيَاءٌ أُخَرُ (اقتضاء الصراط 302)

“Keutamaan malam Nishfu Sya’ban diriwayatkan dari hadis-hadis marfu’ dan atsar (amaliyah sahabat dan tabi’in), yang menunjukkan bahwa malam tersebut memang utama. Dan sebagian ulama Salaf ada yang secara khusus melakukan salat sunah (mutlak) di malam tersebut … Kebanyakan ulama atau kebanyakan ulama dari kalangan kami mengatakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Ini sesuai dengan penjelasan Imam Ahmad karena banyaknya hadis yang menjelaskan tentang malam Nishfu Sya’ban dan yang mendukungnya dari riwayat ulama Salaf. Sebab riwayat Malam Nishfu Sya’ban terdapat dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan, meskipun di dalamnya juga ada sebagian hadis-hadis palsu”  (Iqtidla’ ash-Shirat al-Mustaqim 302)

وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ  (مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469)

“Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú’ Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469).

8. Syaikh al-Mubarakfuri (1361-1427 H / 1942-2006 M)

وَهَذِهِ اْلأَحَادِيْثُ كُلُّهَا تَدُلُّ عَلَى عَظِيْمِ خَطَرِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَجَلاَلَةِ شَأْنِهَا وَقَدْرِهَا وَأَنَّهَا لَيْسَتْ كَاللَّيَالِي اْلأُخَرِ فَلاَ يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهَا بَلْ يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُهَا بِالْعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْفِكْرِ (مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح 4/ 341)

“Hadis-hadis ini secara keseluruhan menunjukkan keagungan Malam Nishfu Sya’ban, dan malam tersebut tidak sama dengan malam-malam yang lain. Dan dianjurkan untuk tidak melupakannya, bahkan dianjurkan untuk menghidupinya dengan ibadah, doa, dzikir dan tafakkur” (Syaikh al-Mubarakfuri dalam Syarah Misykat al-Mashabih 4/341)

Membaca Yasin di Malam Nishfu Sya’ban

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلاَ بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ (أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص 234)
“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad  sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Syaikh Muhammad bin Darwisy, Asná al-Mathálib, 234)

Membaca Yasin 3 kali di malam ini adalah bentuk implementasi atas anjuran berdoa di malam mustajab ini. doa saja sejatinya sudah sah dan itu sangat baik sekali. Akan tetapi jika doa tersebut dibarengi dengan ibadah lain sebagai wasilah doa tersebut, tentu doa akan menjadi sangat tajam dan aula (utama).

Yasin dijadikan sebagai wasilah (perantara) doa tersebut. Artinya mereka membaca Yasin, kemudian dengan yasin tersebut, mereka ber-tawassul denagan bacaan itu untuk berdoa kepada Allah s.w.t. Membaca yasin adalah ibadah, dan ini adalah bentuk ber-tawassul dengan Ibadah. Dan bertawassul dengan ibadah adalah tawassul yang disepakati kebolehannya oleh ulama sejagad.

Tentu pemilihan Yasin tersebut berdasarkan dengan beberapa pertimbangan, selain kemudahan para jamaah atau masyarakata yang sudah terbiasa, Yasin juga punya fadhilah yang sangat bagus, dan itu ma’tsur. Artinya membaca surat selain yasin pun tidak masalah. toh intinya doa dan bertawassul dengan ibadah. Dengan surat apapun atau hanya sekedar dzikir kemudian disusul dengan doa, ya itu fine-fine saja.

Bukankah Itu Namanya Mengkhususkan Ibadah di Hari-Hari Tertentu?

Kalau seperti itu, mestinya ada pertanyaan balik; “apakah mengkhususkan ibadah di hari atau even tertentu diharamkan?”. Ini yang harus diperhatikan, dalam hadits yang diriwayat oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih-nya, bahwa Nabi s.a.w., punya kebiasaan berziarah ke masjid Quba’ setia hari sabtu. Dan itu selalu Beliau lakukan berulang-ulang:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ

Dari Abdullah bin Umar r.a., beliau berkata: “Nabi s.a.w., datang ke masjid Quba’ setiap sabtu dengan berjalan kaki dan (kadang) menaiki kendaraan (unta)” dan (al-Bukhari mengatakan): Ibnu Umar juga melakukan itu.” (Muttafaq ‘Alayh)

Dalam kitabnya yang memang menjelaskan tentang hadits-hadits shahih al-Bukhari, yakni kitab Fathul-Baari (3/69), Imam Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْأَيَّامِ بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ

“dalam hadits ini dengan perbedaan jalur sanadnya, ada pentunjuk bolehnya mengkhususkan hari untuk ibadah dan men-dawamkan (merutinkan) itu.”

Selain Imam Ibn Hajar al-Asqalani, ada ulama dari kalangan al-hanafiyah, yakni Imam Badruddin al-‘Ainiy dalam kitabnya yang memang juga menjelaskan tentang hadits-hadits shahih al-Bukhari, kitab ‘Umda al-Qari’ (7/259), beliau mengomentari hadits ziarah Nabi ke masjid Quba’ ini:

وَفِيه دَلِيل على جَوَاز تَخْصِيص بعض الْأَيَّام بِنَوْع من الْقرب وَهُوَ كَذَلِك إِلَّا فِي الْأَوْقَات الْمنْهِي عَنْهَا كالنهي عَن تَخْصِيص لَيْلَة الْجُمُعَة بِقِيَام من بَين اللَّيَالِي أَو تَخْصِيص يَوْم الْجُمُعَة بصيام من بَين الْأَيَّام

“hadits ini dalil bolehnya mengkhususkan hari untuk mengamalkan qurab (ibadah pendekatan kepada Allah), akan tetapi ini dilarang pada hari-hari yang memang terlarang seperti mengkhususkan malam jumat dengan shalat malam atau hari jumat dengan puasa”.

Artinya Imam Badruddin al-‘Ainiy melihat bahwa mengkhususkan ibadah pada hari-hari tertentu itu sesuatu yang boleh dan baik selama memang tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Yang jelas diharamkan, bukanlah mengkhususkan hari dengan salah satu ibadah, akan tetapi jika ia meyakini bahwa yang dilakukannya itu adalah sebuah kewajiban syariat yang mana jika meninggalkannya berdosa. Ini yang disekapati kehamarannya, karena sama saja mewajibkan sesuatu yang Allah s.w.t. tidak mewajibkan.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *